GOSALI, WARISAN KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT YANG HAMPIR PUNAH

 

     Perkembangan teknologi secara langsung maupun tidak langsung telah merubah tatanan  masyarakat dalam berbagai aspek kehidupannya. Pergeseran nilai yang terus menggerus berbagai tradisi hingga tersisihkan pada posisi titik nadir, telah membawa perubahan pola pikir serta arahan target capaian masyarakat dalam kehidupannya. Satu demi satu tradisi ditinggalkan beralih pada tatanan modernisasi yang seringkali kebablasan dan menjadikannya kehilangan esensi jati diri.

    Beranjak  dari keprihatinan serta keinginan untuk menggali berbagai potensi kearifan lokal, guna dikembangkan menjadi sesuatu yang memberi peluang pengembangan diri, Desa Sukalaksana mencoba menggali, mengangkat, serta mengembangkan berbagai kearifan lokal sebagai langkah awal mencapai target pembangunan melalui kegiatan desa wisata. Apa yang disajikan dalam kegiatan desa wisata di Desa Sukalaksana benar-benar menampilkan wajah desa dengan segala kesederhanaan dan potensi yang dimilikinya, baik kekayaan alam, budaya, maupun sosial ekonomi masyarakat yang dikemas dalam balutan tema wisata edukasi.

    Salahsatu paket wisata yang ditawarkan, yaitu mengenal berbagai tradisi yang hidup di tengah masyarakat seperti halnya profesi pengrajin perkakas besi yang dikenal di masyarakat sebagai panday.  Keberadaannya yang sudah hampir punah mencoba dihidupkan kembali melalui kegiatan desa wisata. Gosali sebagai tempat kerja para panday tersebut, saat ini di Desa Sukalaksana hanya tinggal tiga lokasi, dan para panday itu pun hanya beberapa orang saja yang dalam kesehariannya sudah tidak lagi menggantungkan hidupnya dari membuat berbagai perkakas besi. Mereka lebih fokus dalam kegiatan bertani, berdagang, atau di bidang jasa.

    Paket Panday Besi dalam kegiatan desa wisata ini lebih diarahkan pada aspek pengenalan proses pengerjaan pembuatan perkakas besi dengan segala keunikannya, pengenalan sarana atau alat yang digunakannya, serta tempat kerja para panday yang dinamakan gosali. Pengunjung diajak untuk mencoba berbagai alat yang digunakan dengan segala tingkat kesulitannya. Dan hal ini tentunya menjadi sebuah pengalaman unik bagi orang-orang yang saat ini sudah banyak kehilangan jejak tradisi nenek moyangnya disebabkan pesatnya teknologi. Bagi masyarakat secara umum, mungkin saat ini sudah bukan hal sulit untuk mendapatkan berbagai perkakas besi dengan kualitas terbaik yang dikeluarkan pabrik-pabrik besar, namun mereka tidak pernah mendapatkan sebuah momen berharga tentang benang merah sejarah kehidupan yang telah begitu panjang menjadi bagian dari kehidupan nenek moyangnya.

    Apa yang dilakukan oleh Desa Sukalaksana, sesuai dengan jargon wisata yang diluncurkannya yaitu Desa Wisata Saung Ciburial, mudah-mudahan menjadi sebuah gambaran limpahan berkah kehidupan bagi segenap masyarakat dan tatanan budaya yang dipertahankannya, seperti halnya mata air Ciburial yang tidak pernah kering untuk terus menghidupi masyarakat yang ada di sekitarnya. (Garut, 29 Januari 2019)

 Agenda akhir tahun yang dilaksanakan di Desa Sukalaksana, dalam rangka mengimplementasikan motto "Iuran Sambil Ibadah" sebagai  salahsatu motivasi bagi warga untuk turut berpartisipasi dalam berbagai program kegiatan desa dengan cara taat membayar iuran wajib pemanfaat air bersih, yaitu berupa pemberian santunan kepada anak yatim piatu.

    Kegiatan ini sudah dilaksanakan secara rutin, yang dana kegiatannya diambil diantaranya dari hasil iuran pemanfaat air bersih  yang dikelola oleh BP SPAMS Karya Laksana sebagai bagian dari Bumdes Desa Sukalaksana.

    "Kegiatan ini menjadi pembuktian bagi segenap warga, mengenai motto yang selama ini kita canangkan, yaitu "Iuran sambil Ibadah". Apa yang mereka berikan berupa pembayaran iuran pemanfaatan air bersih, pada akhirnya akan dikembalikan lagi kepada mereka dalam berbagai bentuk program dan kegiatan, diantaranya santunan kepada anak yatim piatu ini," demikian disampaikan oleh Oban Sobana, kepala desa Sukalaksana.

    Tahun ini, ada 100 orang anak yatim piatu yang mendapatkan santunan, yang merupakan warga dari 7 RW yang ada di Desa Sukalaksana. Selain pemberian santunan, ada juga penghargaan yang diberikan untuk para warga yang menjadi teladan dalam ketaatan membayar iuran secara tepat waktu. Masing-masing 3 orang warga yang mewakili tiap RW, yang diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi warga lainnya.

    Pemanfaatan dana pendapatan asli desa dari pengelolaan berbagai kegiatan di Desa Sukalaksana, seperti dari pengelolaan air bersih oleh BP SPAMS, Desa Wisata, penjualan produk unggulan desa melalui UKM Center, dan yang lainnya, memang pada akhirnya dikembalikan lagi kepada masyarakat dalam berbagai bentuk, diantaranya berupa pembangunan infrastruktur dan dana sosial untuk membantu berbagai kebutuhan warga, sehingga dengan demikian slogan "dari, oleh, dan untuk masyarakat" dapat diwujudkan dalam sebuah bukti nyata. Dan oleh karenanya Desa Sukalaksana dapat berbangga, karena dapat membuktikan kepada semua pihak sebagai salahsatu desa yang mampu membangun dalam kemandirian tanpa selalu tergantung dari bantuan pihak luar.

 

Komentar